Rabu, 25 Desember 2013

Slank Nggak Ada Matinya, Pengabadian Perjalanan Slank Melalui Film

Akhirnya setelah sekian lama, film biopic Slank dirilis juga. Sudah berbulan-bulan menunggu rilisnya, rasanya tidak sabar menikmati film yang bertajuk Slank Nggak Ada Matinya. Dan tanggal 24 Desember 2013 rilislah film istimewa ini!

Di hari pertama penayangan serentaknya, saya langsung berburu tiket bioskop. Mengambil pemutaran jam malam, karena harus menunggu Mas Pacar pulang kerja dulu untuk bisa meluncur ke 21. Pukul 19.30 sampailah saya dan Mas Pacar di salah satu 21 di kota Malang, kami pun segera menuju studio karena jam sudah mepet dan film sudah mulai diputar.

Saya begitu penasaran bagaimana cerita hidup Slank dari awal terbentuknya formasi ke empat belas, hidup Bimbim (Adipati Dolken), Kaka (Ricky Harun), dan Ivan (Aaron Shahab) yang "diganggu" oleh ganasnya narkoba, kerja keras Bunda Iffet membebaskan mereka, hingga kesuksesan Slank sekarang ini. Bagaimana penggambaran peran-peran Kaka, Bimbim, Ivan, Abdee, Ridho, Bunda Iffet (Meriam Bellina), dan tokoh-tokoh lain di balik perjalanan turun naik Slank.

Dimulai dari masuknya Abdee (Dave Mahenra) dan Ridho (Ajun Perwira) sebagai personil baru di tahun 1996, untuk membuktikan Slank tidak bubar setelah ditinggal personil sebelumnya. Dengan formasi baru tersebut, Slank kembali merilis album Tujuh dengan lagu andalan Balikin. Album Tujuh berhasil meraih penghargaan sebagai album terlaris dan beberapa penghargaan musik lainnya.

Ketika era Refomasi dimulai, Slank merilis album Mata Hati Reformasi di tahun 1998 sebagai bentuk apresiasi mereka terhadap pemerintahan di Indonesia. Pada saat itu juga Kaka, Bimbim, dan Ivan semakin tergantung dengan narkoba. Bunda Iffet semakin khawatir dengan kelangsungan hidup anaknya dan Slank. Namun di saat itu juga jalan menuju kesembuhan Bimbim, Kaka, dan Ivan seperti dibukakan. Dengan kehadiran mantan personil Slank yang sudah sembuh dari jeratan narkoba melalui pengobatan cina Pak Teguh. Bunda kemudian membujuk Bimbim, Kaka, dan Ivan untuk mengikuti pengobatan karena sebelumnya mereka sudah berjanji akan berusahan untuk sembuh dari kecanduan tersebut.

Konflik mulai terasa ketika pengobatan Pak Teguh sudah dijalankan. Abdee dan Ridho membantu Bunda Iffet untuk mengawasi pengobatan Bimbim, Kaka, dan Ivan, yang sempat membuat Ridho putus asa hingga ingin keluar dari Slank. Di lain sisi, kehadiran Renny sebagai pendamping hidupnya sangat melecut semangat Bimbim untuk berusaha sembuh.

Usaha mereka berbuah hasil. Mereka berhasil sembuh, diiringi tour mereka ke Jepang. Akhir cerita, Kaka menikahi Natascha, Ivan menikahi Putri, Ridho menikahi Ony, Bimbim mengarungi rumah tangganya dengan Renny, dan Abdee membesarkan putri satu-satunya bernama Alanis. Dan Slank pun berkomitmen untuk menjadi band yang bebas dari narkoba dan mendirikan rehabilitasi narkoba di markas mereka di Jalan Potlot.

Yang menarik dari film ini adalah penampilan khusus personil asli yaitu Bimbim yang menjadi manager sebuah Cafe, Kaka menjadi satpam dan penghulu yang menikahkan Kaka dan Tascha, Ridho sebagai manager Hotel, Ivan yang berubah menjadi Office Boy Hotel, dan Abdee sebagai lelaki di toilet yang sempat mengobrol dengan Abdee. Sungguh twist yang lucu dan menggelikan!

Last but not least, film ini sangat sayang untuk dilewatkan, apalagi kalau  menyukai Slank. Fully complete!

Kamis, 05 Desember 2013

The Lucky One (2012), Story About The Lucky Photo

Ini film dari novel Nicholas Sparks yang saya inginkan. Cerita cinta yang dibumbui dengan keajaiban. Khas Nicholas Sparks. Film terbaru yang dibuat berdasarkan novel Nicholas Sparks dengan judul yang sama. Tokoh utama diperankan oleh Zac Efron dan Taylor Schilling.

Menceritakan sosok Logan (Zac Efron), seorang marinir yang menemukan keajaiban setelah menemukan sebuah foto wanita berlatar mercusuar. Sesaat setelah mengambil foto berdebu itu, tempat Logan berdiri meledak terkena bom. Logan tercengang dan memandangi foto tersebut. Logan merasa foto itu telah menjadi malaikat penyelamatnya. Dan setelah perang berakhir Logan kembali ke rumahnya, merenungkan foto itu. Berbekal letak mercusuar, Logan berniat mengunjungi wanita yang ada di foto itu untuk berterima kasih karena sudah menjadi penyelamatnya ketika perang. Mengunjungi mercusuar itu dengan berjalan kaki.

Akhirnya Logan menemukan tempat tinggal wanita itu yang ternyata mempunyai tempat pelatihan anjing. Logan melamar kerja sebagai pelatih anjing disitu, tempat pelatihan anjing milik Beth (Taylor Shilling). Logan pun akhirnya mengetahui kalau Beth adalah seorang janda dengan satu anak laki-laki bernama Benny. Mantan suaminya, Keith, masih sering berkunjung untuk menemui anak mereka.

Cerita demi cerita, Logan melupakan niatnya untuk mengembalikan foto Beth dan mengucapkan terima kasih. Logan malah terpesona dengan kepribadian dan keseharian Beth. Neth pun lambat laun menaruh hati pada Logan, karena Logan bisa membuat anak Beth ceria setelah perpisahan kedua orang tuanya. Hingga suatu ketika kesalahpahaman terjadi, adik laki-laki Beth yang juga seorang marinir bernama Drake tewas ketika perang. Menurut Beth, Drake tewas bukan karena perang melainkan karena kesalahan teman satu korpsnya. Ketika Beth mengetahui kalau Logan menyimpan foto dirinya, Beth marah menuduh Logan lah penyebab kematian Drake. Tapi namanya cinta, selalu ada jalan menuju kecerahan dan kebahagiaan. Logan menceritakan penyebab kematian Drake yang sesungguhnya, Logan baru menyadari kalau Drake yang dimaksud Beth adalah teman satu korpsnya. Beth pun menerima Logan sebagai pengganti ayah Benny.

Another nice love story. Nicholas Sparks selalu berhasil membawa perasaan penikmat ceritanya ke dalam jurang berliku menuju keajaiban cinta yang tak pernah terduga. Melalui Logan dan Beth, kita akan menyadari bahwa kebetulan dan keajaiban adalah salah satu jalan menuju cinta yang sebenarnya.

Rabu, 27 November 2013

Menanti Desember, Menanti Dua Film Hebat

Bulan Desember ini ada dua film hebat yang akan diputar serentak se-Indonesia. Film yang sangat saya tunggu dari beberapa bulan lalu. Dua-duanya film dalam negeri yang penuh berisikan inspirasi bagi "penggemar"-nya. Semacam film biografi yang menceritakan perjalanan hidup dari nol hingga menghasilkan sesuatu yang membanggakan.

Film pertama berjudul Slank Nggak Ada Matinya. Dari membaca judulnya saja sudah jelas film ini adalah film tentang Slank. Memang benar, film ini akan menceritakan perjuangan Slank ketika menginjak dunia musik Indonesia, pergulatan mental dan batin tentang narkotika, sampai akhirnya mereka menemukan pencerahan. Bebas dari narkotika dan mendulang sukses dengan lembaran baru.

Sungguh tidak sabar untuk menikmati film ini 24 Desember 2013 nanti. Lega, karena akhirnya dibuat juga film yang menceritakan perjalanan Slank. Setelah sebelumnya cerita tentang perjuangan Slank lepas dari narkotika diabadikan dalam sebuah buku berjudul Rock 'n Roll Mom. Saya pasti akan menonton film ini di seminggu pemutaran pertamanya!

Satu lagi film hebat yang akan diluncurkan Desember ini yaitu Soekarno: Indonesia Merdeka. Film tentang satu-satunya orang Indonesia yang banyak melahirkan sejarah. Seorang yang sangat berpengaruh di jaman kemerdekaan Indonesia. Film yang sebelumnya banyak menuai pro-kontra dari orang-orang yang berhubungan langsung dengan Bung Karno. Tapi, apapun keadaan di luar sana, film ini akan sangat membuka mata berjuta-juta orang. Bahwa Soekarno adalah benar-benar pejuang kemerdekaan yang berkarisma.

Ah, Desember kurang berapa hari lagi ya?

Selasa, 26 November 2013

Laura & Marsha, Indonesia Rasa Eropa

Film ini salah satu film bagus menurut saya. Dari segi cerita, tokoh-tokohnya, dan pasti setting tempat yang 90 persen berada di Eropa. You know, Europe! Wow! Alasan terbesar saya menyukai film ini ya itu, setting Eropa yang begitu menakjubkan. Disamping ceritanya yang memang istimewa, di antara begitu banyak cerita cinta di film-film Indonesia jaman sekarang. Film ini menyuguhkan cerita cinta yang tidak mendominasi keseluruhan cerita.

Berawal dari tokoh Laura (Prisia Nasution) dan Marsha (Adinia Wirasti) yang merencanakan trip ke Eropa. Marsha berkeinginan merayakan dua tahun meninggalnya Ibundanya dengan mengunjungi Eropa. Marsha yang sudah bersahabat dengan Laura sejak SMA, mengajak sahabatnya itu ikut serta dengannya. Menikmati Eropa dalam dua minggu. Laura menolak, tapi Marsha terus-menerus meyakinkannya untuk bersedia berangkat ke Eropa.

Fyi, Laura diceritakan sudah memiliki anak perempuan berusia 6 tahun yang tinggal bersamanya di rumah Ibu Laura. Akhirnya Laura berpikir bahwa sebenarnya dia memerlukan trip ini, dan ia pun mengiyakan ajakan Marsha. Dengan persiapan seperlunya, mereka berdua berangkat ke Eropa.

This is the adventure began! Sampai di Eropa pertama kali, mereka mengunjungi Amsterdam. Menikmati suasana kuno Amsterdam, meninggalkan segala masalah dan beban mereka di Indonesia. Tujuan mereka selanjutnya adalah menuju Jerman. Di tengah perjalanan, Marsha berkenalan dengan laki-laki bernama Finn yang mengaku mengetahui jalan dari Amsterdam menuju Jerman. Dengan mengendarai mobil sewaan, Laura, Marsha, dan Finn, memulai perjalanan menuju Jerman.

Tapi masalahnya, hampir sampai di Jerman, Laura menyadari bahwa mereka salah jalan dan sedikit nyasar, dan itu gara-gara Finn yang tidak mengatakan sebelumnya bahwa dia akan mengunjungi temannya di lain kota. Laura pun marah dan meninggalkan Finn di tengah jalan.

Masalah tidak berhenti di situ saja, di tengah perjalanan mereka harus bertemu dengan tiga orang laki-laki yang berniat jahat. Mereka bisa lolos sih, tapi mobil ditinggal, dan mereka hanya membawa tas berisi kamera. Laura dan Marsha saling menyalahkan atas kejadian yang menimpa mereka, karena itu sungguh di luar rencana.

Hingga masalah sebenarnya pun terungkap. Laura, bersedia ikut ke Eropa dengan niat menemui suami yang telah lama meninggalkannya. Sedangkan Marsha, merasa sangat bersalah atas kematian Ibunya yang stress karena memikirkan dirinya yang mengidap kanker rahim dan harus mengangkat semua rahimnya. Mereka dua wanita hebat, tapi tidak sempurna. Perselisihan dan kesalahpahaman akhirnya membawa mereka pada jawaban yang mereka cari selama ini. Tentang suami Laura, tentang penyesalan dan impian Marsha.

Sungguh film yang menyentuh, dibalut dengan pemandangan kota-kota di Eropa yang fantastis megahnya. Ending yang masuk akal dan penuh pesan bijak. So recommended!

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon