Selasa, 31 Desember 2013

Catatan Penghujung Tahun 2013

Sampai juga di penghujung tahun, lagi-lagi harus mengenang segala yang terlewati di sepanjang tahun ini. Tentang hidup, tentang putaran langit, jajaran waktu, dan akhirnya tentang satu waktu di penghujung tahun. Mungkin yang akan kukenang adalah ketika harus menendang kuat-kuat kerikil itu hingga menabrak tembok besar yang berdiri kokoh di antara semua yang selama ini sudah tersusun. Kagetnya, tembok itu runtuh hanya dengan sekali tendangan kaki kanan. Ketika tembok sudah runtuh, bentangan hal baru pun akan dimulai. Peduli apa dengan mereka yang terlalu ingin ikut berputar dalam lingkaran yang hanya berpusat pada susunan ceritaku. Ah sudahlah.

Tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahunku sebelumnya. Tetap syahdu, tetap berkesan, tetap berputar naik turun. Bagaimana pun yang telah terlewati akan menjadi sesuatu berharga untuk tumpukan semangat menyambut hari-hari baru di tahun selanjutnya. Wunderbahr!

Glückliches neues Jahr!

Rabu, 25 Desember 2013

Slank Nggak Ada Matinya, Pengabadian Perjalanan Slank Melalui Film

Akhirnya setelah sekian lama, film biopic Slank dirilis juga. Sudah berbulan-bulan menunggu rilisnya, rasanya tidak sabar menikmati film yang bertajuk Slank Nggak Ada Matinya. Dan tanggal 24 Desember 2013 rilislah film istimewa ini!

Di hari pertama penayangan serentaknya, saya langsung berburu tiket bioskop. Mengambil pemutaran jam malam, karena harus menunggu Mas Pacar pulang kerja dulu untuk bisa meluncur ke 21. Pukul 19.30 sampailah saya dan Mas Pacar di salah satu 21 di kota Malang, kami pun segera menuju studio karena jam sudah mepet dan film sudah mulai diputar.

Saya begitu penasaran bagaimana cerita hidup Slank dari awal terbentuknya formasi ke empat belas, hidup Bimbim (Adipati Dolken), Kaka (Ricky Harun), dan Ivan (Aaron Shahab) yang "diganggu" oleh ganasnya narkoba, kerja keras Bunda Iffet membebaskan mereka, hingga kesuksesan Slank sekarang ini. Bagaimana penggambaran peran-peran Kaka, Bimbim, Ivan, Abdee, Ridho, Bunda Iffet (Meriam Bellina), dan tokoh-tokoh lain di balik perjalanan turun naik Slank.

Dimulai dari masuknya Abdee (Dave Mahenra) dan Ridho (Ajun Perwira) sebagai personil baru di tahun 1996, untuk membuktikan Slank tidak bubar setelah ditinggal personil sebelumnya. Dengan formasi baru tersebut, Slank kembali merilis album Tujuh dengan lagu andalan Balikin. Album Tujuh berhasil meraih penghargaan sebagai album terlaris dan beberapa penghargaan musik lainnya.

Ketika era Refomasi dimulai, Slank merilis album Mata Hati Reformasi di tahun 1998 sebagai bentuk apresiasi mereka terhadap pemerintahan di Indonesia. Pada saat itu juga Kaka, Bimbim, dan Ivan semakin tergantung dengan narkoba. Bunda Iffet semakin khawatir dengan kelangsungan hidup anaknya dan Slank. Namun di saat itu juga jalan menuju kesembuhan Bimbim, Kaka, dan Ivan seperti dibukakan. Dengan kehadiran mantan personil Slank yang sudah sembuh dari jeratan narkoba melalui pengobatan cina Pak Teguh. Bunda kemudian membujuk Bimbim, Kaka, dan Ivan untuk mengikuti pengobatan karena sebelumnya mereka sudah berjanji akan berusahan untuk sembuh dari kecanduan tersebut.

Konflik mulai terasa ketika pengobatan Pak Teguh sudah dijalankan. Abdee dan Ridho membantu Bunda Iffet untuk mengawasi pengobatan Bimbim, Kaka, dan Ivan, yang sempat membuat Ridho putus asa hingga ingin keluar dari Slank. Di lain sisi, kehadiran Renny sebagai pendamping hidupnya sangat melecut semangat Bimbim untuk berusaha sembuh.

Usaha mereka berbuah hasil. Mereka berhasil sembuh, diiringi tour mereka ke Jepang. Akhir cerita, Kaka menikahi Natascha, Ivan menikahi Putri, Ridho menikahi Ony, Bimbim mengarungi rumah tangganya dengan Renny, dan Abdee membesarkan putri satu-satunya bernama Alanis. Dan Slank pun berkomitmen untuk menjadi band yang bebas dari narkoba dan mendirikan rehabilitasi narkoba di markas mereka di Jalan Potlot.

Yang menarik dari film ini adalah penampilan khusus personil asli yaitu Bimbim yang menjadi manager sebuah Cafe, Kaka menjadi satpam dan penghulu yang menikahkan Kaka dan Tascha, Ridho sebagai manager Hotel, Ivan yang berubah menjadi Office Boy Hotel, dan Abdee sebagai lelaki di toilet yang sempat mengobrol dengan Abdee. Sungguh twist yang lucu dan menggelikan!

Last but not least, film ini sangat sayang untuk dilewatkan, apalagi kalau  menyukai Slank. Fully complete!

Kamis, 05 Desember 2013

The Lucky One (2012), Story About The Lucky Photo

Ini film dari novel Nicholas Sparks yang saya inginkan. Cerita cinta yang dibumbui dengan keajaiban. Khas Nicholas Sparks. Film terbaru yang dibuat berdasarkan novel Nicholas Sparks dengan judul yang sama. Tokoh utama diperankan oleh Zac Efron dan Taylor Schilling.

Menceritakan sosok Logan (Zac Efron), seorang marinir yang menemukan keajaiban setelah menemukan sebuah foto wanita berlatar mercusuar. Sesaat setelah mengambil foto berdebu itu, tempat Logan berdiri meledak terkena bom. Logan tercengang dan memandangi foto tersebut. Logan merasa foto itu telah menjadi malaikat penyelamatnya. Dan setelah perang berakhir Logan kembali ke rumahnya, merenungkan foto itu. Berbekal letak mercusuar, Logan berniat mengunjungi wanita yang ada di foto itu untuk berterima kasih karena sudah menjadi penyelamatnya ketika perang. Mengunjungi mercusuar itu dengan berjalan kaki.

Akhirnya Logan menemukan tempat tinggal wanita itu yang ternyata mempunyai tempat pelatihan anjing. Logan melamar kerja sebagai pelatih anjing disitu, tempat pelatihan anjing milik Beth (Taylor Shilling). Logan pun akhirnya mengetahui kalau Beth adalah seorang janda dengan satu anak laki-laki bernama Benny. Mantan suaminya, Keith, masih sering berkunjung untuk menemui anak mereka.

Cerita demi cerita, Logan melupakan niatnya untuk mengembalikan foto Beth dan mengucapkan terima kasih. Logan malah terpesona dengan kepribadian dan keseharian Beth. Neth pun lambat laun menaruh hati pada Logan, karena Logan bisa membuat anak Beth ceria setelah perpisahan kedua orang tuanya. Hingga suatu ketika kesalahpahaman terjadi, adik laki-laki Beth yang juga seorang marinir bernama Drake tewas ketika perang. Menurut Beth, Drake tewas bukan karena perang melainkan karena kesalahan teman satu korpsnya. Ketika Beth mengetahui kalau Logan menyimpan foto dirinya, Beth marah menuduh Logan lah penyebab kematian Drake. Tapi namanya cinta, selalu ada jalan menuju kecerahan dan kebahagiaan. Logan menceritakan penyebab kematian Drake yang sesungguhnya, Logan baru menyadari kalau Drake yang dimaksud Beth adalah teman satu korpsnya. Beth pun menerima Logan sebagai pengganti ayah Benny.

Another nice love story. Nicholas Sparks selalu berhasil membawa perasaan penikmat ceritanya ke dalam jurang berliku menuju keajaiban cinta yang tak pernah terduga. Melalui Logan dan Beth, kita akan menyadari bahwa kebetulan dan keajaiban adalah salah satu jalan menuju cinta yang sebenarnya.

Rabu, 27 November 2013

Menanti Desember, Menanti Dua Film Hebat

Bulan Desember ini ada dua film hebat yang akan diputar serentak se-Indonesia. Film yang sangat saya tunggu dari beberapa bulan lalu. Dua-duanya film dalam negeri yang penuh berisikan inspirasi bagi "penggemar"-nya. Semacam film biografi yang menceritakan perjalanan hidup dari nol hingga menghasilkan sesuatu yang membanggakan.

Film pertama berjudul Slank Nggak Ada Matinya. Dari membaca judulnya saja sudah jelas film ini adalah film tentang Slank. Memang benar, film ini akan menceritakan perjuangan Slank ketika menginjak dunia musik Indonesia, pergulatan mental dan batin tentang narkotika, sampai akhirnya mereka menemukan pencerahan. Bebas dari narkotika dan mendulang sukses dengan lembaran baru.

Sungguh tidak sabar untuk menikmati film ini 24 Desember 2013 nanti. Lega, karena akhirnya dibuat juga film yang menceritakan perjalanan Slank. Setelah sebelumnya cerita tentang perjuangan Slank lepas dari narkotika diabadikan dalam sebuah buku berjudul Rock 'n Roll Mom. Saya pasti akan menonton film ini di seminggu pemutaran pertamanya!

Satu lagi film hebat yang akan diluncurkan Desember ini yaitu Soekarno: Indonesia Merdeka. Film tentang satu-satunya orang Indonesia yang banyak melahirkan sejarah. Seorang yang sangat berpengaruh di jaman kemerdekaan Indonesia. Film yang sebelumnya banyak menuai pro-kontra dari orang-orang yang berhubungan langsung dengan Bung Karno. Tapi, apapun keadaan di luar sana, film ini akan sangat membuka mata berjuta-juta orang. Bahwa Soekarno adalah benar-benar pejuang kemerdekaan yang berkarisma.

Ah, Desember kurang berapa hari lagi ya?

Selasa, 26 November 2013

Laura & Marsha, Indonesia Rasa Eropa

Film ini salah satu film bagus menurut saya. Dari segi cerita, tokoh-tokohnya, dan pasti setting tempat yang 90 persen berada di Eropa. You know, Europe! Wow! Alasan terbesar saya menyukai film ini ya itu, setting Eropa yang begitu menakjubkan. Disamping ceritanya yang memang istimewa, di antara begitu banyak cerita cinta di film-film Indonesia jaman sekarang. Film ini menyuguhkan cerita cinta yang tidak mendominasi keseluruhan cerita.

Berawal dari tokoh Laura (Prisia Nasution) dan Marsha (Adinia Wirasti) yang merencanakan trip ke Eropa. Marsha berkeinginan merayakan dua tahun meninggalnya Ibundanya dengan mengunjungi Eropa. Marsha yang sudah bersahabat dengan Laura sejak SMA, mengajak sahabatnya itu ikut serta dengannya. Menikmati Eropa dalam dua minggu. Laura menolak, tapi Marsha terus-menerus meyakinkannya untuk bersedia berangkat ke Eropa.

Fyi, Laura diceritakan sudah memiliki anak perempuan berusia 6 tahun yang tinggal bersamanya di rumah Ibu Laura. Akhirnya Laura berpikir bahwa sebenarnya dia memerlukan trip ini, dan ia pun mengiyakan ajakan Marsha. Dengan persiapan seperlunya, mereka berdua berangkat ke Eropa.

This is the adventure began! Sampai di Eropa pertama kali, mereka mengunjungi Amsterdam. Menikmati suasana kuno Amsterdam, meninggalkan segala masalah dan beban mereka di Indonesia. Tujuan mereka selanjutnya adalah menuju Jerman. Di tengah perjalanan, Marsha berkenalan dengan laki-laki bernama Finn yang mengaku mengetahui jalan dari Amsterdam menuju Jerman. Dengan mengendarai mobil sewaan, Laura, Marsha, dan Finn, memulai perjalanan menuju Jerman.

Tapi masalahnya, hampir sampai di Jerman, Laura menyadari bahwa mereka salah jalan dan sedikit nyasar, dan itu gara-gara Finn yang tidak mengatakan sebelumnya bahwa dia akan mengunjungi temannya di lain kota. Laura pun marah dan meninggalkan Finn di tengah jalan.

Masalah tidak berhenti di situ saja, di tengah perjalanan mereka harus bertemu dengan tiga orang laki-laki yang berniat jahat. Mereka bisa lolos sih, tapi mobil ditinggal, dan mereka hanya membawa tas berisi kamera. Laura dan Marsha saling menyalahkan atas kejadian yang menimpa mereka, karena itu sungguh di luar rencana.

Hingga masalah sebenarnya pun terungkap. Laura, bersedia ikut ke Eropa dengan niat menemui suami yang telah lama meninggalkannya. Sedangkan Marsha, merasa sangat bersalah atas kematian Ibunya yang stress karena memikirkan dirinya yang mengidap kanker rahim dan harus mengangkat semua rahimnya. Mereka dua wanita hebat, tapi tidak sempurna. Perselisihan dan kesalahpahaman akhirnya membawa mereka pada jawaban yang mereka cari selama ini. Tentang suami Laura, tentang penyesalan dan impian Marsha.

Sungguh film yang menyentuh, dibalut dengan pemandangan kota-kota di Eropa yang fantastis megahnya. Ending yang masuk akal dan penuh pesan bijak. So recommended!

Senin, 25 November 2013

Menyanyi Dalam Jiwo J#ncuk

"Orang-orang yang menyanyi, orang yang mungkin beruntung. Beruntung, karena orang yang menyanyi sesungguhnya sedang mengambil jarak terhadap duka citanya." (Jiwo J#ncuk, hal. 121)

Apa iya saya begitu? Setahu saya, ketika saya menyanyi di hadapan orang banyak, saya merasakan sesuatu yang menyenangkan. Kalau ternyata menurut Sudjiwo Tedjo, menyanyi itu berarti sedang mengambil jarak terhadap duka cita. Menurut saya lain lagi, menyanyi untuk saya adalah cara saya menikmati duka cita. Menjadikan duka cita sebagai sesuatu yang menyenangkan, alasannya ya karena semua yang saya rasakan keluar melelui lagu-lagu yang saya nyanyikan.

Seperti ketika saya menyanyikan Anyer, 10 Maret milik Slank. Saya tidak sedang berduka, tidak sedang bersedih, tapi rasanya saya telah membuang semua perasaan terpendam bersama lagu itu. Entah perasaan apa. Padahal sama sekali lagu itu bukan lagu yang mewakili perasaan saya ketika itu. Atau mungkin terbawa suasana ya?

Juga ketika saya menyanyikan lagu Cinta Terakhir dari Gigi beberapa tahun silam. Rasanya saya seperti terbawa musiknya, mengiringi semua perasaan yang saya pendam. Perasaan yang saya tidak pernah tahu persis bagaimana sesungguhnya perasaan itu. Bukan duka, bukan sedih, hanya merasakan lega yang luar biasa ketika semua bisa keluar berasama lagu yang saya nyanyikan.

Dua lagu di atas memang lagu sedih yang mungkin bisa membuat orang bunuh diri saat mendengarnya. Tapi ketika saya menyanyikan lagu yang "bukan lagu sedih", seperti Lama-lama Aku Bosan milik Audy, yang saya rasakan masih sama! Perasaan lega.

Jadi saya sendiri menyimpulkan, menyanyi adalah cara saya menikmati duka cita dan perasaan apapun dalam diri saya. Perasaan yang saya pendam, dan hanya bisa keluar ketika saya menyanyi di hadapan banyak orang. That's it.

Kamis, 21 November 2013

Nights at Rodhante (2008) The Most Wonderful Movie

Cerita cinta dalam novel-novel Nicholas Sparks selalu membuat saya terpesona. Mulai dari A Walk to Remember (2002), The Notebook (2004), Message In The Bottle (1999), sampai Dear John (2010). Kurang lebih itu film yang pernah saya tonton dan merupakan adaptasi dari novel Nicholas Sparks. Tapi ada satu film lagi dari novel Nicholas Sparks yang paling saya suka, judulnya Nights at Rodhante (2008). Entah mengapa, dari semua film adaptasi novel Nicholas Sparks, film inilah yang menurut saya paling berkesan. Mungkin karena dalam versi filmnya, tokoh utama diperankan oleh Richard Gere yang masya Allah tampannya!

Dan karena film ini terlampau berkesan untuk saya, saya sampai membaca versi novelnya sekaligus. Benar-benar indah meskipun tragis. Cerita cinta dalam film ini digambarkan melalui tokoh utama perempuan, yaitu Adrienne Willis (Diane Lane), perempuan yang mencoba menenangkan diri setelah merasa rumah tangganya gagal. Secara kebetulan, salah satu temannya memiliki penginapan kecil dan meminta Adrienne merawatnya.

Adrienne yang memang sedang membutuhkan ketenangan, mengiyakan permintaan temannya itu, dan kemudian berangkat menuju penginapan yang terletak di pinggir pantai tersebut. Tak lama setelah Adrienne berada di penginapan tersebut, datang seorang laki-laki bernama Dr. Paul Flanner (Richard Gere) untuk menginap di sana. Dr. Paul Flanner datang ke Rodhante dengan tujuan untuk berbaikan dengan putranya yang telah lama meninggalkannya.

Terjebak di tengah badai yang tiba-tiba datang, Adrienne dan Dr. Paul menemukan apa yang selama ini mereka idamkan. Rasa cinta, kasih sayang, merasa dibutuhkan satu sama lain, yang mungkin sudah tidak lagi dirasakan oleh keduanya. Kehidupan asmara yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.

And how's the ending of the story? Ya seperti film-film dari novel Nicholas Sparks lainnya, kisah cinta mereka berakhir tragis dengan jalan cerita kompleks yang dramatis namun tetap indah. Seakan-akan akhir cerita sedih yang disuguhkan tidak mampu mengalahkan bagaimana rasa cinta yang tumbuh di tengah mereka sepanjang cerita. Itulah hebatnya Nicholas Sparks!

Suasana romantis yang digambarkan dengan menjebak Adrienne dan Dr. Paul di tengah badai sangat berhasil. Apalagi dengan dimanjanya mata saya melihat akting dan pesona Richard Gere selama kurang lebih 100 menit. It's the most wonderful movie!

Film dari novel-novel Nicholas Sparks selalu saya tunggu-tunggu. Film paling baru dari Nicholas Sparks yang saya tonton adalah Dear John. Sama romantisnya, sama tragisnya, namun cinta digambarkan dengan setting dan ssi yang berbeda. Setelah Dear John, novel Nicholas Sparks yang diadaptasi ke film adalah The Last Song (2010) dan The Lucky One (2012). Saya belum nonton sih, karena DVD film drama leih susah dicari daripada film-film fantasi dan fiksi ilmiah yang memang sedang booming. Tapi saya masih menunggu untuk bisa menikmati dua film icholas Sparks itu!

Malangku Sudah Kembali

Saya ingat, sekitar beberapa bulan yang lalu, hampir semua status di jejaring sosial mengeluh akan cuaca Malang yang berubah menjadi panas ketika siang hari. Ya memang karena musim kemarau sih, tapi setauku, sejak aku kecil, meskipun musim sedang kemarau Malang tetap terasa sejuk waktu siang. Malamnya pasti dingin sejadi-jadinya. 

Ketika memasuki musim penghujan satu bulan terakhir ini, Malang serasa kembali seperti asalnya. Sejuk, dingin, mendung, kemudian hujan sepanjang hari. Apalagi beberapa hari ini, jam delapan pagi bagaikan jam lima sore! Langit gelap, dingin menusuk tulang, dan tidak berapa lama pasti akan turun hujan. Dari hujan gerimis, rintik yang rapat, sampai hujan deras yang benar-benar deras bercampur angin. Sumpah, hawa Malang seakan terasa sekali.

Bagi saya, musim inilah yang selalu saya nanti sepanjang tahun. Musim penghujan yang akan selalu terasa syahdu. Langit mendung, hawa dingin, rintik hujan, angin yang berbeda. Hmm, it was beatify! Saya selalu merasa bahagia ketika musim penghujan, walaupun kadang hujan telah membuyarkan rencana keluar rumah, saya tetap tidak bisa membenci hujan.

Setiap musim penghujan datang, saya merasa tidak ingin musim ini cepat berakhir. Bahkan saya ingin musim penghujan berlangsung sepanjang tahun saja. Syahdunya hujan itu yang membuat saya “kerasan”. Bagaimana tidak, apapun yang saya lakukan di musim penghujan adalah sesuatu yang tidak dapat saya lakukan pada musim kemarau, dan itu sungguh hebat. Saya bisa membuat banyak tulisan, ya saat musim penghujan. Saya bisa merasa damai, ya saat hujan. Saya bisa menyanyi lagu-lagu favorit sepanjang masa, ya dapat feel-nya saat musim penghujan! 


Kapan ya, Malang bisa mendapat musim penghujan sepanjang tahun?

Minggu, 17 November 2013

Mata Najwa On Stage (UMM Dome) 15 November 2013

Hari Jum’at tanggal 15 November lalu, kampusku tercinta (UMM) menggelar (atau kedatangan ya lebih tepatnya?) acara hebat yang sudah sangat akrab di mata para pecinta program talk show televisi. Tayangnya setiap hari Rabu pukul 21.30 malam di Metro TV dengan presenter cantik, smart, dan lugas yaitu Najwa Shihab. Guess what? Ya, Mata Najwa!

Hanya bedanya kali ini Mata Najwa dibuat konsep On Stage yang merupakan acara taping untuk ditayangkan di Metro TV tanggal 21 November 2013. Menariknya, bukan hanya acaranya yang memang sudah menarik melainkan narasumbernya yang berhasil menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton yang hadir di Dome UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Bayangkan saja, ketiga narasumber adalah orang-orang hebat, inspirator “ganteng”, dan benar-benar mengagumkan. Ketiga orang itu adalah Dahlan Iskan (Menteri BUMN), Moh. Mahfud MD (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), dan Basuki Tjahaja Purnama (Wakil Gubernur DKI Jakarta).

Najwa Shihab dan Mata Najwa menyebut mereka sebagai “Komandan Koboi”. Maksudnya yaitu, ketiga orang tersebut adalah para pemimpin yang memiliki gaya khas, hebat namun low profile, tetapi mereka dikenal masyarakat melalui gaya memimpinnya yang kadang agak “di luar konteks”. Mengerti yang saya maksud, kan? Gampangnya begini deh, Dahlan Iskan dikenal suka anti protokoler tapi bijaksana, Moh. Mahfud MD dikenal lurus dan tegas ketika memimpin MK, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dikenal galak sekaligus temperamen tetapi itu dilakukannya atas dasar membela kepentingan rakyatnya. Itulah yang menjadi background story Mata Najwa memberi tema “Komandan Koboi”.

Acara yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB ini, dibuka dengan penampilan Endah N Resha. Meneriakkan “Salam Satu Jiwa” khusus untuk arek Malang, Endah N Resha kemudian membawakan satu lagunya sebagai pembuka acara. Berlanjut ke sessi yang ditunggu-tunggu oleh sekitar 7.500 audiences yang membanjiri Dome UMM, Najwa Shihab muncul dari tengah venue, berjalan di tengah-tengah audiences yang hadir. Berjalan menuju panggung, sambil melambaikan tangan ke seluruh sudut venue. Sampai di panggung, Najwa Shihab membuka acara inti dengan kalimat yang selalu sama di tiap tayangan Mata Najwa sebagai penanda bahwa sudah memasuki acara inti.

Satu per satu narasumber yang hebat-hebat tadi dipanggil oleh Najwa Shihab untuk naik ke panggung. Dahlan Iskan dengan gaya santainya, sepatu kets dan jas ditenteng, menyapa seluruh audiences dengan menampilkan goyang Gangnam Style (:D). Kemudian Moh. Mahfud MD dengan pembawaan yang kalem namun tegas,  tampil sangat berwibawa. Narasumber yang ketiga ini sepertinya yang paling ditunggu oleh audiences, yaitu Ahok, seketika suasana berubah menjadi hawa “Jokowi”. Ya, ketika Ahok berjalan menaiki tangga panggung, seolah-olah yang hadir itu Jokowi, apalagi ketika mendengar sorakan senang dari 7.500 audiences. Pesona Ahok memang tidak kalah dari pesona Jokowi :D

Topik perbincangan beragam sekali, mulai dari gaya mereka memimpin, falsafah hidup mereka, pandangan mereka tentang kondisi Indonesia, dan yang menarik adalah ketika Najwa Shihab menyinggung perihal “gebrakan” Dahlan Iskan dan Moh. Mahfud MD sebagai Calon Presiden 2014 mendatang. Lebih lengkapnya bisa disaksikan pada penayangannya tanggal 27 November 2013 nanti mungkin ya, karena kalau ditulis akan kurang mengena obrolan mereka berempat itu. Sangat inspiratif!

Sekitar pukul 17.00 WIB acara diakhiri dengan syukuran pemotongan tumpeng ulang tahun Metro TV yang ke-13 dan Mata Najwa yang ke-4. Istimewa sekali rasanya bisa hadir di acara sehebat ini, meskipun hanya sebagai audience. Tapi dalam hati kecil saya, saya rindu menjadi organizer untuk event-event besar seperti ini. Menjadi salah satu orang yang berada di balik suksesnya acara daripada hanya menjadi penikmat dan penonton saja, itu yang saya sayangkan. Ya kira-kira sudah setahun terakhir ini saya lepas dari apapun yang berhubungan dengan organized an event. Terlepas dari itu semua, saya bangga bisa menjadi bagian dari acara ini meski hanya sebagai penikmat. Keep succsess Mata Najwa! See you on next event!

Jumat, 15 November 2013

Kondangan

Kondangan yang dalam arti umumnya adalah menghadiri undangan pernikahan, sudah menjadi tradisi penting di tengah-tengah masyarakat. Tradisi yang sepertinya sudah menjadi wajib, karena dalam agamaku menghadiri undangan adalah sesuatu yang wajib. Dan karena itu pula, kondangan menjadi sangat penting dan harus dipersiapkan.
Kata-kata dipersiapkan inilah yang menekankan bahwa kondangan itu memang penting. Bagaimana tidak penting, kalau setiap akan kondangan kita harus mempersiapkan segalanya. Mulai dari baju, tas, sepatu, make up, agar terlihat pantas. Yang tidak kalah pentingnya adalah siapa yang mengundang kita! Alasan satu ini sih yang biasanya dipakai ukuran untuk memberi kado pernikahan :D

Buatku sendiri, kondangan itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Merasakan kebahagiaan orang lain dibagi dengan para undangan. Merasakan suasana senang dan ceria sepanjang waktu. Menyenangkan, kan? Dibalik “menyenangkannya” kondangan, terselip perasaan ribet. Ribet akan memakai baju yang mana, tas yang mana, sepatu yang mana, dan make up seperti apa yang cocok. Ya, aku tetaplah perempuan biasa yang memperhatikan semua itu. Siapa sih yang tidak mau terlihat cantik? :D
Sebenarnya, yang jauh lebih penting daripada memantaskan diri adalah silaturahmi. Silaturahmi dan menghormati siapapun yang mengundang kita, itu yang penting. Mengingat semua akan berbalik ke kita sendiri. Kita melakukan hal baik, maka orang insya Allah orang akan memperlakukan kita dengan baik. Amin.


Malang, 8 November 2013

Ukraina yang Masih Menjadi Mimpi Terindah

Hmm, Ukraine is the most place i have to go! Saya jatuh cinta pada negara ini, salah satunya karena Andriy Shevchenko, pemain bola favoritku, berasal dari sini. Lebih dari itu, saya suka Ukraina adalah bagian dari benua Eropa, dan aku selalu menyukai apapun yang berhubungan dengan Eropa. Negara terindah yang aku pilih dari Eropa adalah Ukraina. Negara pecahan Uni Soviet yang terletak di Eropa bagian Timur ini beribukota di Kiev, kota kelahiran Shevchenko. Mungkin, kalau suatu saat nanti aku diberi kesempatan untuk berkunjung kesini, kota yang akan kudatangi pertama kali adalah Kiev. Berkunjung ke ibukota dari suatu Negara itu seakan kita bisa membaca sekilas bagaimana suasana, kultur, dan tipe masyarakatnya. Apalagi kalau mengunjungi salah satu museumnya, rasanya seperti sudah mengunjungi Negara itu dari ujung sampai ujung.

Setelah Kiev, mungkin aku akan memilih Lviv untuk tujuan selanjutnya. Dari beberapa tulisan yang aku baca, Lviv adalah sebuah kota dengan kebudayaan Mekkah yang kental. Di sinilah kota yang menyajikan “pasar souvenir” dan tempat makan yang bermacam-macam. Menurut orang yang sudah pernah berkunjung ke sana, ke Ukraina kalau tidak mampir ke Lviv rasanya tidak akan lengkap. Aku sudah tidak sabar untuk bisa berkunjung ke sana!

Kota selanjutnya yang sudah kuimpikan untuk kukunjungi adalah Donetsk. Donetsk seperti Kota Wisata-nya Ukraina, selalu ramai dikunjungi turis asing. Museum, katedral, taman, dan pantai ada di Kota ini. Lengkap kan? Kurang apa cobaaaa :D Pantai yang paling indah itu namanya Pantai Crimea. Sumpah ya, ketika menulis ini, aku sudah membayangkan ada di pinggir Pantai Crimea dengan topi lebar, selonjoran, dan memandang lautan biru yang terbentang di hadapanku. Subhanallah!

Mengenal Ukraina yang seindah ini, pasti tidak akan menyangka kalau Negara ini pernah mendapat musibah besar atas radiasi nuklir Rusia di tahun 1986. Mereka menyebutnya Tragedi Chernobyl. Ya, seluruh wilayah Ukraina ter-radiasi nuklir Rusia dan menyebabkan banyak penduduk mengalami gangguan fungsi otak yang menyebabkan keterbelakangan mental. Saat ini, Ukraina sudah melupakan kejadian itu, tapi tetap mengenangnya dalam sebuah monumen penghormatan koran Chernobyl. And you see? Ukraina sudah menjadi Negara maju dengan tempat-tempat wisata yang tidak kalah dengan tempat wisata internasional lainnya.
Jadi kapan aku ke sana? Terus terang, aku masih belum tahu bagaimana caranya bisa ke Ukraina selain karena uang banyak. Beasiswa? Rasanya tidak mungkin. Short Course? Juga tidak. Aupair? Sepertinya tidak ada. Terus? Apa ukraina hanya akan menjadi mimpiku saja ya?


Malang, 8 November 2013

Slank itu Seperempat Jiwaku

Kenapa seperempat? Ya, karena setengah jiwaku milik mas Pacar, seperempatnya milik Slank, dan seperempatnya lagi adalah ruang untuk menyusun mimpi-mimpiku. Tapi meskipun seperempat, Slank sudah sangat memenuhi  jiwaku. Slank itu salah satu grup band yang (akan ) menjadi legenda di Indonesia. Siapa sih yang gak kenal Slank?
Aku sendiri mengenal dan kemudian menyukai band ini sejak duduk di bangku kelas 5 SD sekitar tahun 2001. Lagu pertama yang kudengar dari Slank adalah Virus. Tanpa ada alasan yang sampai sekarang bisa kuketahui, seketika aku merasa suka dengan band ini. Lagu, pembawaan personel, dan yang terpenting lirik-lirik lagunya.

Hari ke hari, bulan ke bulan. Semakin banyak aku mengenal lagu-lagu Slank, aku merasa semakin menyukai band ini, bahkan bisa dibilang aku sudah jatuh cinta dengan Slank. Mengumpulkan satu demi satu albumnya dalam bentuk kaset pita menjadi kesibukanku semasa SD, dan itu berlanjut hingga sekarang.
Sekitar tahun 2004, untuk pertama kalinya aku menonton langsung konser Slank. Sejak saat itu, aku mulai tidak pernah absen menonton langsung konser band idolaku satu ini. SMP, SMA, menjadi masa-masa gilaku akan konser Slank, berlanjut ketika aku sudah menjadi mahasiswi. Rasanya menonton konser Slank langsung itu seperti semangat yang tadinya tipis seketika menebal dengan cepat.

Ketika sudah menjadi mahasiswi pun, bukannya aku mengurangi “Slank-Slank-an” melainkan malah menjadi saja kegilaanku akan band ini. Terlebih lagi ketika aku menemukan seseorang yang sealiran yang saat ini kupanggil Mas Pacar, yaitu sekitar bulan Oktober tahun 2010. Dimanapun Slank menggelar konser, aku dan Mas Pacar tidak pernah absen. Bahkan sekitar bulan Mei tahun 2011 Slank menggelar konser di Bali, kau dan Mas Pacar pun berangkat juga ke Bali!

Terlebih juga, terhitung sejak bulan November 2010 hingga Februari 2013 aku dipilih menjadi sekretaris di Slank Fans Club Malang. Slank Fans Club resmi pertama di Indonesia! Senang, lega, dan bangga. Banyak sekali yang kudapat dari menjabat sebagai sekretaris di Slank Fans Club Malang. Antara lain pengalaman organized event, mengelola semi-organisasi yang beranggotakan seratus lebih orang, menjadi orang istimewa di setiap konser Slank, dan banyak lagi. Kalau untuk bisa bertemu dengan personel, crew, dan Bunda Iffet, aku rasa itu hanya bonus, karena pelajaran yang di dapat jauh lebih berharga dari itu.

Ada perasaan bangga ketika aku tidak hanya menjadi penikmat dari konser-konser Slank tapi menjadi salah satu yang ikut andil dalam menyukseskan konser Slank. Dan hingga detik ini aku masih mencari alasan mengapa aku bisa sangat jatuh cinta terhadap band ini. Lirik lagu yang sederhana tapi tepat sasaran, pembawaan personel yang apa adanya, dan mungkin, ada suasana berbeda ketika bisa mengenal mereka lebih dekat, lebih tepatnya mungkin suasana “tanpa batas” antara Slank dan Slanker, atau antar sesama Slanker. Itu yang tidak ternilai!

Sejujurnya, tidak akan pernah habis kata-kataku apabila membahas soal Slank. Banyak perasaan dan pengalaman yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Aku rasa, perasaan dan pengalaman yang masih banyak ini memang hanya bisa diabadikan dalam kenangan, tidak dengan kata-kata.
Last but not least, Slank is my spirit, my life teacher, and totally my idol :D

Malang, 7 November 2013            

Hujan dan Segala Keindahannya

Mendengar kata “hujan” yang terbayang adalah suasana syahdu dengan mendung gelap dan tetes air hujan. Memang, syahdu-nya suasana ketika hujan turun inilah yang selalu membuatku suka. Rasanya semacam damai ke hati ketika cuaca berubah mendung dan kemudian tidak berapa lama hujan turun pelan, sampai deras. Hmm, so deep inside!  Apalagi ketika duduk diam di balik jendela dan menyaksikan air hujan jatuh dari sebuah daun, nyeesss ke hati!

Bagaimanapun bentuk hujan, aku selalu suka. Aku tidak pernah menyalahkan hujan turun. Buatku hujan itu keindahan dari Tuhan yang tidak ternilai syahdunya. Bayangkan, seakan ada air turun dari langit begitu cerianya dan sampai ke bumi dengan damainya.
Musim hujan menjadi musim yag kutunggu datangnya setiap tahun. Entah kenapa, rasanya lega ketika tahun sudah memasuki musim hujan. Walaupun kalau sudah musim hujan, setiap hari sepanjang hari hujan bisa datang tanpa berhenti. Tetap saja aku tidak bisa membenci hujan.

Sedang sedih atau bahagia, hujan tetap indah dan membahagiakan. Sungguh, ada rasa bahagia ketika melihat hujan turun tanpa beban walaupun banyak yang “marah” ketika hujan harus turun di waktu yang mereka anggap kurang tepat. Tapi bagiku, hujan tidak pernah salah. Sekali lagi, hujan tidak pernah salah.
Menyalahkan hujan sama saja menyalahkan Tuhan. Dan aku, akan tetap mencintai hujan sekalipun hujan datang di saat yang tidak tepat.


Malang, 7 November 2013

Coffe Taste With My Old Besties (after 2 years)

Sekitar bulan lalu aku mendapat pesan di handphone-ku dari seorang teman lama, lebih tepatnya teman lama paling dekat :D Dia, yang sekarang sudah tinggal di luar kota mengajakku untuk bertemu, setelah sekian lama gak ketemu. Aku ingat sih, terakhir ketemu itu adalah dua tahun yang lalu ketika perayaan kecil ulang tahunku. Sumpah, aku baru benar-benar ingat kalau ternyata sudah selama itu kita gak bertemu sama sekali :D
Sahabatku satu ini memang sahabat yang paling dekat yang aku punya. Kita dulunya teman satu kelas saat SMP, kemudian SMA beda sekolah, dan kuliah pun gak sama-sama. Tapi entah kenapa, kedekatan batin kita selalu kuat, padahal kita contact tidak selalu setiap hari meskipun nomor handphone-nya kusimpan. Di antara susahnya bertemu, kita selalu menyempatkan bertemu, paling tidak beberapa bulan sekali. Selalu banyak cerita, tidak pernah habis cerita yang kita bagi.
Beberapa hari sebelum hari ini dia memastikan ingin bertemu denganku karena banyak sekali yang ingin dia ceritakan, dia keluhkan, dia bagikan. Sampai-sampai dia menyempatkan waktu di antara cuti kerjanya mengurus pembuatan paspor. Aku pun mengiyakan ajakannya tanpa ragu, mengingat memang sudah lama sekali kita gak ketemu. Dia memilih tempat yang nyaman untuk kita ketemu, yaitu di Coffe Taste.

Kebetulan pas datang harinya kita ketemu cuaca mendadak mendung, dan Mas Pacar gak bisa mengantar karena sudah mepet waktu masuk kerja akhirnya sama Mas Pacar diminta naik taksi. Aku pun berangkat menuju Coffe Taste dengan taksi. Dan kebetulan lagi, hari itu hari pertama diberlakukannya jalur searah di Jl. MT Haryono Malang. Aku ngerasain lho jalur searah hari pertama :D
Sampai di Coffe Taste, ternyata temanku ini sudah menunggu selama 10 menit. Kita masuk, dan memilih meja yang sangat nyaman karena letaknya pas di samping kaca pembatas. Suasana tempat ini memang nyaman kalau untuk berlama-lama tanpa harus “memikirkan” orang lain. Siang itu aku memesan ice cappucino dan rich omelette-nya, mungkin karena sedikit lapar kali ya, jadi aku memesan makanan yang agak berat :D

Seperti sebelum-sebelumnya, aku dan temanku pasti berbagi banyak cerita, tukar pikiran, tukar senang, tukar sedih, apapun lah. Selalu ada cerita yang kita bagi setiap kali kita bertemu.  Sambil menikmati makanan pesananku, cerita tetap mengalir. Makanannya cukup memuaskan, enak, tampilan bagus, gak begitu mahal. Begitupun ice cappucino-nya. Recommended deh kalau untuk menghabiskan banyak waktu di tempat ini :)
Terhitung dari jam 12 siang sampai jam 5 sore kita ada di tempat ini. Apa saja coba yang kita ceritakan? Banyak! Selesai menikmati rich omelette dan ice cappucino, aku mencoba makanan lainnya, dan yang aku pilih cheese toast dan orange squash. Sumpah gak nyesel pesan makanan ini. Enak cyyiinn :D
Mungkin kalau gak ada telepon panggilan untuk temanku ini menjemput Mamanya, pasti kita akan berjam-jam lagi ada di tempat ini. Tapi apa daya, waktu masih saja menjadi pembatas. Sekitar jam 5 sore aku dan temanku ini akhirnya pulang masing-masing. Dengan satu pesan,”Kita ketemu lagi jangan lama-lama ya,” Semoga aku dan temanku ini tetap berhubungan baik samapi kita jadi nenek-nenek meskipun tidak selalubisa bertemu dalam waktu dekat. Thanks my besties, it was relieve! See ya :)

Malang, 6 November 2013

Dan Brown Memang Gila!

Ya, gila adalah kata yang tepat untuk penulis macam Dan Brown. Gila, dan selalu lebih gila. Pertama aku membaca buku tulisan Dan Brown adalah bukunya yang berjudul “The Da Vinci Code”. Seingatku waktu membacanya aku masih kelas 1 SMA. Aku membaca review-ya di koran pagi langganan keluargaku. Novel itu begitu heboh dan laris di seluruh dunia. Menceritakan misteri sebuah organisasi tersembunyi ilmuwan-ilmuwan masa lampau. Tak perlu aku urai bagaimana ceritanya pun pasti sudah banyak yang mengetahui jalan cerita novel ini. Bukan isi novel yang akan kutulis disini, melainkan gilanya otak Dan Brown di setiap buku-buku tulisannya. Memang dasarnya aku suka novel misteri (bukan horor), novel yang menegangkan tapi bukan berhubungan dengan dunia gaib, cerita-cerita macam cerita detektif seperti Detective Conan dan semacamnya. The Da Vinci Code bagaikan surga bagi penikmat cerita detektif-detektif-an. Lembar demi lembar aku mulai membaca novel ini sampai akhirnya selesai dalam tiga hari. And what did i feel? Really amazed! Aku tidak menyangka ada penulis seberani Dan Brown, segila dia, dan sehebat dia!

Aku sampai tidak bisa membedakan mana fakta dan mana fiksi dalam novel ini. Perpindahan dari jajaran fakta menuju ke fiksinya sangat halus. Saya benar-benar takjub dengan isi otak Dan Brown. Berapa lama dia melakukan riset sampai bisa menghasilkan novel sehebat itu? Setelah hebohnya novel itu menjadi best seller seluruh dunia, akhirnya novel itu difilmkan juga. Tapi ya, namanya film, kurang lebih itu pasti ada. Lebihnya aku bisa melihat Robert Langdon (Tom Hanks) dalam versi visual, dan gambaran-gambaran tempat, teka-teki, juga tokohnya aku rasa sudah tepat. Hanya saja, membaca selalu lebih berkesan daripada menonton filmnya dengan cerita yang sama.
Selesai The Da Vinci Code, Dan Brown menggebrak lagi dengan novel berikutnya dengan tokoh utama yang sama, yaitu Robert Langdon, ahli simbolog dan sejarahwan seni. Judulnya Angels and Demons. Lagi-lagi otak gila Dan Brown begitu liar berfantasi hingga mungkin, ilmu pengetahuan dan agama adalah dua bidang yang saling berkaitan. Benar-benar menkjubkan membaca novel satu ini.
Angels and Demons pun kemudian menyusul untuk difilmkan, bagus tapi tetap lebih berkesan membaca. Illuminati dijabarkan dengan gamblang, seakan tanpa fiksi. Membuat mata kita terbuka, bahwa organisasi-organisasi tersembunyi di masa lampau sangat berpengaruh di masanya.

Novel berikutnya dengan tokoh yang sama berjudul The Lost Symbol. Menceritakan misteriusnya penculikan Peter Solomon, pemegang posisi tertinggi dalam persaudaraan Freemason. Masih liar, masih tanpa batas, dan semakin sadis saja penggambaran cerita dalam novel ini. Satu hal yang menarik dan membuat saya begitu penasaran ketika nanti novel ini akan difilmkan (semoga) adalah adegan dimana Robert Langdon hampir mati, atau tepatnya berada di antara hidup dan mati di tengah-tengah pemecahan teka-teki penting. Ah, so curious!
Belum habis takjubku untuk tulisan-tulisan Dan Brown, meluncur lagi satu novel terbaru karyanya, berjudul Inferno yang artinya adalah neraka. Rupanya belum habis imaji Dan Brown tentang sesuatu yang misterius tentang karya seni besar jaman dahulu. Kali ini Inferno karya Dante Alighieri yang menjadi sasarannya. Novel ini masih setengah aku baca, karena merasa sayang kalau tiba-tiba habis lembarannya :D
Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa manusia seperti Dan Brown bisa menghasilkan tulisan yang sangat hebat tanpa cacat sedikitpun? Otak gila macam apa yang Dan Brown miliki! Sebenarnya ada dua lagi novel karya Dan Brown yaitu Digital Fortress dan Deception Point, tapi sepertinya tokoh Robert Langdon lebih berpengaruh dan menarik untuk diikuti daripada kedua novel Dan Brown lainnya yang tokoh utamanya bukan Robert Langdon.
So, penikmat misteri, teka-teki, dan detektif-detektif-an, aku yakin, jangan pernah melewatkan 4 novel Dan Brown ini. Sumpah, Dan Brown sungguh gila!


Malang, 4 November 2013

Mencicipi Pasar Minggu Malang

Entah kenapa tiba-tiba kepikiran untuk jalan-jalan di Pasar Minggu Jalan Semeru hari Minggu kemarin. Seingatku terakhir kali kesini sudah berbulan-bulan lalu. Ketika niat ini kusampaikan ke Mas Pacar, eh dia bilang,"Yuk deh," Hari Minggu pagi sekitar jam 7, aku sudah bersiap menunggu jemputan menuju Jalan Semeru Malang. Tapi ya namanya Mas Pacar, jam 7 bisa jadi jam setengah delapan baru berangkat :D

Sampai di Pasar Minggu, tidak ada niat harus membeli ini membeli itu. Hanya berniat menikmati saja. Tapi apa daya, aku tetaplah perempuan biasa yang matanya berubah jadi ijo ketika melihat segitu banyak barang dagangan yang kadang hanya lucu, tapi kadang juga perlu dibeli. Mas Pacar pun akhirnya belanja juga :D

Pasar Minggu hari itu seakan lebih ramai dari biasanya, mungkin karena efek tanggal muda kali ya jadi orangnya bertumpuk di sepanjang Jalan Semeru. Pasar Minggu yang biasanya sudah sepi saat jam 10 pagi, hari itu sampai jam 10 lebih pun masih ramai. Seperti menonton karnaval aja pikirku.

Meskipun ramai, panas menyengat, dan orang-orangnya berebut udara untuk bernafas, toh kita tetap nyaman aja melihat-lihat apa saja yang dijual. Baru merasa sadar kalau belanjaan mulai susah dibawa karena lumayan banyak :D Aku dan Mas Pacar mulai berjalan ke arah stand-stand makanan. Isi perut sebentar, menikmati makanan-makanan berat, kemudian memutuskan pulang aja, panaaasssnnyya gak nahaaann!

Pasar Minggu tetaplah tujuan tepat untuk berbelanja barang "aneh", mencicipi makanan-makanan "aneh" juga, dan tentunya tempat bagus untuk me-refresh otak di hari Minggu pagi :)



Malang, 4 November 2013

Some words as a introducing

Beberapa tulisan yang sudah lumayan lama sepertinya cukup untuk menjadi sekilas pembuka untuk blogku ini. Beberapa tulisan yang umurnya bahkan ada yang kurang lebih setahun kemarin. And this is the time to introduce my self as the only writer here. Aku hanyalah seperti perempuan kebanyakan. Perempuan muda, cinta menulis, cinta Slank, cinta traveling, dan cinta pacar :) Yang membedakan mungkin adalah aku seorang mahasiswi yang masih kerasan untuk menjadi mahasiswi :p

And 'bout writing, aku cinta satu hal ini, bisa dikatakan semenjak aku bisa menulis perasaanku yang aku sadari ternyata memang hanya bisa diungkapkan dengan tulisan. Bukannya aku seorang yang pendiam atau apa, tapi aku hanya merasa nyaman ketika menyimpan semua yang ku alami dan ku rasakan itu untukku sendiri. Dan tulisan adalah caraku untuk berbagi, untuk menuangkan, tanpa harus menarget orang lain untuk mendengarkan ceritaku, keluh kesahku, rasa senang dan bahagiaku, bahkan rasa sakitku.

Entahlah apa tipe-ku ini. Yang pasti, aku merasa nyaman ketika harus berbagi melalui sebuah tulisan yang aku anggap sebagai satu-satunya cara untuk "curhat". Mungkin karena aku bukan tipe perempuan yang suka berbagi cerita dengan sesama perempuan lain. Lebih tepatnya aku menjunjung tinggi privasi hati dan otakku yang merupakan harta berhargaku selama aku hidup.

Bukan berarti hidupku tidak bahagia. Justru aku selalu merasa bahagia atas apa yang aku pilih dan aku jalani ini. Aku masih bisa menikmati hidup seceria mereka yang bisa lebih gampang untuk "curhat", menikmati dunia dengan caraku sendiri. Aku bisa berbahagia ketika menikmati konser band kesukaanku, menikmati setiap perjalanan jauh yang selalu aku abadikan, menikmati dicintai dan mencintai :)

Ya, this is me. Just me and still be me. Perempuan biasa yang mencoba membagi apapun yang dirasakannya melalui tulisan, karena tulisan-lah satu-satunya yang tidak akan pernah protes :D



Malang, 3 November 2013

Pertama, Mas Abdee 'Slank', dan Sagon

Malang, 12 Oktober 2012

18 Maret 2012. Hmm, so unforgetable! Memang sudah berbulan-bulan lalu, bahkan sudah lewat setengah tahun. Tapi saya ingat persis bagaimana untuk pertama kalinya saya berhadapan langsung dan bertukar cerita  dengan orang-orang yang saya kagumi sejak kelas 5 SD, khususnya Mas Abdee. Di tanggal itu Mas-mas dari Potlot mengadakan konser bertajuk Extraligi di Malang, yaitu di Lapangan Cengger Ayam. Saya, kebetulan yang sangat membahagiakan, dipilih untuk menjaga tenda artis bersama 5 orang lainnya yang semuanya laki-laki (termasuk Mas Bom). Wah, ini nih kesempatan untuk bisa dekat dengan Mas-mas Potlot!

Sekitar jam 14.30, Mas-mas Slank berikut Bunda dan Road Manager tiba di venue. Ya, this is my first time! Masih sekedar bertatap muka dan bersalaman, tapi itu sudah sangat membuat saya takjub! Finally I got it! Jam 15.00-nya, Mas-mas Slank mulai naik panggung. 12 lagu pun sukses dibawakan ketika itu. Dan untuk pertama kalinya, saya menikmati konser Slank dari balik panggung, bukan di depan panggung. But it was so special!
Setelah semua lagu selesai dibawakan, Mas-mas Slank, Bunda, dan rombongan langsung bertolak menuju hotel. Saat itu saya berpikir, hmm kapan ya saya bisa mengobrol panjang lebar dengan Mas-mas Slank tadi?  Tiba-tiba Pak Bos kita memanggil Mas Bom, semacam berbicara sesuatu penting. Ternyata iya! Rasanya keinginan saya dengan mudah terwujud juga.

Selepas menghilangkan lelah, saya dan Mas Bom bersiap mengambil "bonus". Menuju hotel tempat Mas-mas Slank menginap! Oh God! Masuk lobi hotel, saya berharap-harap cemas (bisa ga ya?), sedangkan Mas Bom malah meledek. Pak Bos? Sibuk ber-SMS. Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan pintu masuk hotel. Turunlah yang kita tunggu, Bunda Iffet, Mas Bimbim, Mas Kaka, Mbak Shanti, dan tentunya Mas Abdee! Yang mengagumkan saya, kita bertemu bukan seperti seorang fans bertemu dengan idolanya, tetapi seperti bertemu dengan teman lama. Bersalaman dengan Mas-mas dan Mbak Shanti, cium tangan Bunda, kemudian berlanjut mengobrol. Bercerita sedikit tentang Malang, makanan, dan suasana.

And this is the essence of this story, Mas Abdee mengambil sesuatu dari tas plastik yang dibawanya,"Ini loh, sagon, khas Malang," sambil memberikan sagon itu ke tangan saya. Wow! Sumpah! Saya melongo gak jelas! "Oh iya Mas," hanya itu yang keluar dari bibir saya. Sejenak saya "terpaku", tapi kemudian berlanjut mengobrol lagi. Bertukar banyak cerita, Malang, Slankers, acara-acara sebelumnya, dan bisnis baru Mas Abdee. Mungkin sekitar satu jam saya, Mas Bom, dan Pak Bos menghabiskan waktu saat itu. Bonusnya lagi, Mas Abdee mengambil duduk pas di samping saya, ya sekitar 30cm di sebelah kiri saya (^,^)V. Sekitar 10 menit kemudian, Mas Ivan yang selesai berkunjung ke tempat saudaranya tiba juga di hotel. Hanya sebentar kemudian berpamitan untuk istirahat. Begitu juga dengan Mas Ridho.

Kalau dihitung mungkin ada sekitar dua jam kita di hotel itu. Sepulangnya, sepanjang jalan, saya hanya tersenyum-tersenyum sendiri. Berkali-kali mengucap, thanks God! Memang tidak ada foto bersama, karena komitmen kita seperti itu. Tidak perlu berfoto bersama, kita teman, bukan fans dengan idola! Meskipun begitu, bertukar cerita bersama sudah jauh lebih mengesankan daripada hanya berfoto. Mengutip kata salah satu teman yang intinya, kenangan manis itu terkadang tidak diabadikan dengan sesuatu, hanya tersenyum mengingatnya pun sudah cukup.
Eiittss, tapi saya ada sesuatu loh! Sagon dari Mas Abdee masih saya simpan sampai sekarang!


Thanks a lot for Pak Bos, My Hubby, Bunda Iffet, and Slank, especially for Mas Abdee.

Soundrenaline 2012, Kenjeran Park Surabaya

Malang, 7 Oktober 2012


Ya, seperti perjalanan nonton konser sebelum-sebelumnya. Kumpul, rembug, janjian, berangkat. Sama juga dengan rencana berangkat ke Soundrenaline Kenjeran, awalnya sih cuma "berangkat yuk", tapi yang namanya groupies pasti ga bakal asik kalau ga "gerombolan". Kita punya fans club, dan kita pun punya korwil. Berangkat sama-sama meskipun hanya ke Surabaya itu seperti menjadi satu keharusan yang sayang sekali untuk dilewatkan. Dan ini sudah kesekian kalinya untuk kita! Kalau ga salah sudah lebih dari yang kelima, dari dua tahun lalu. Kita sendiri sampai hapal bagaimana ciri "arek-arek" kalau mau road to show. Yang pertama, jam karet. Tradisi atau memang sengaja? Ya apapun alasannya, jam karet itu menjadi pelengkap cerita lah. Antisipasinya sih klasik aja, janjian kumpulnya dua jam sebelum berangkat. Yang kedua, penunjuk jalan. Nah yang ini susah-susah gampang. Ada yang tahu benar, ada yang setengah tahu, ada yang ga tahu sama sekali. Solusinya ya tetap, GPS manual alias tanya ke orang di jalan. Yang ketiga, identitas. Kalau ada konser yang syarat masuknya pake KTP atau SIM, pasti ada aja yang ga bawa salah satu bahkan dua-duanya ga ada! Solusinya? Rahasia! (*,*)
Sabtu pagi, kita berkumpul di tempat kebesaran, yaitu Wargenbi. Sekitar jam 10 pagi (padahal janjiannya jam 9), saya dan Mas Bom sampai di Wargenbi. Dan disitu baru ada 2 orang! Lumayan lah. Si komandan Wargenbi bilang,"Nunggu dua orang lagi trus kita ke Suhat, dari SKB udah ngumpul dari jam 8 pagi," What? Jam 8 pagi? Slankers apa mau upacara nih jam 8 pagi udah stand by? Beberapa menit kemudian, dua orang yang ditunggu pun datang. Beberapa menitnya lagi, kita bersiap menuju tempat berikutnya untuk berkumpul dengan yang lain. Kalau dihitung, ada sekitar 15 orang yang berangkat ke Kenjeran. Jam udah nangkring di jam 12 siang. Panas itu pasti, tapi demi nonton Mas-Mas Cakep Dari Potlot, kita rela berpanas-panasan!

Mulailah kita menyusuri sepanjang jalan Malang-Surabaya. Masuk di Lapindo, lanjut ke Sidoarjo, lancaaarrrr! Sampai di persimpangan di dalam Surabaya, bingung! Serong atau lurus ya? Akhirnya, karena jarak antara motor satu sama yang lainnya ga beriringan, beberapa motor memilih serong, 4 motor sisanya lurus. 4 motor, salah satunya motor Mas Bom! Setelah jalan beberapa kilometer, rasa ga yakin muncul, bener ga ya jalannya? Disinilah GPS pun beraksi,"Misi Om, mau nanya nih, arah ke Kenjeran yang mana ya?"
Lurus, kanan, kiri, ketemu lah kita di komplek sebelum Kenjeran. Mencari warung nasi untuk melepas lelah. Masih 4 motor yang salah jalan. Eh ternyata motor-motor yang lain ada di belakang kita! Horeee kita berkumpul lagi! Sampai di area Kenjeran, yang pertama kita lakukan adalah mencari tempat parkir yang pas kemudian melihat2 suasana. Mencari teman-teman sesama Slankers dari Kota lain. Saya pun begitu. Bertemu dengan teman dari Kota lain. Satu teman perempuan yang begitu baik, akrab, dan apa adanya. Sekedar melepas kangen, tukar cerita, dan berfoto! Setelah puas melihat-melihat dan bertemu teman, kita pun membeli tiket masuk. Hmm, sudah ga sabar menikmati konsernya. Masuk lah kita ke venue, cek tiket, cek identitas, cek i
si tas. Satu hal yang dituju oleh mata saya yang pasti ya panggung! Panggung megah dengan lighting bagus, tulisan "Rhythm Revival" yang berdiri tegak di atas panggung menyambut kita semua. Rasanya lelah yang tadi terhapus begitu saja. Satu per satu band pengisi tampil, Netral, Pas Band, Andra and the Backbone.

Sekitar jam 10 malam, yang ditunggu-tunggu pun naik panggung. Slank! Sebagai band penutup tentulah lagu yang dibawakan lebih banyak dari band-band lain. Total ada 15 lagu yang dibawakan oleh Mas-Mas Cakep Dari Potlot. Selalu, setiap kali melihat Slank di televisi, menonton langsung konsernya, yang otomatis saya ingat adalah sagon dari Mas Abdee! Ya, kue sagon yang diberi Mas Abdee dari tangannya ke tangan saya 6 bulan lalu masih saya simpan. Really unforgetable! Mas Abdee yang saya kagumi sejak bertahun-tahun lalu, akhirnya berada pas di hadapan saya, duduk di samping saya, mengobrol berjam-jam! It was so great!
Lagu demi lagu mengalir terbawa. Sampai pada lagu Ku Tak Bisa, lagu ini yang dua tahun lalu menjadi "unik" di telinga saya, karena di akhir lagu pasti ada moment yang begitu manis yang selalu terulang ketika lagu ini mengalun dari atas panggung. Penampilan Slank malam itu ditutup dengan lagu Kebyar-Kebyar yang dibawakan bareng dengan semua band pengisi. Selesai sudah. Satu jam kemudian, kita ber-15 mulai berjalan meninggalkan area untuk pulang ke Malang. Dan alhamdulillah, menjelang subuh kita semua sampai dengan selamat.
Thank you Surabaya, thank you Slankers, thank you Slank, and thousand thank for My Hubby (*,*)V

d'Summer Back, Singkat, Penuh Kesan



 Malang, 24 September 2012

d'Summer Back. Singkat tetapi terlampau berkesan. Hanya beberapa bulan, d'Summer Back seperti kebersamaan yang sama sekali tidak direncanakan indahnya. Tak tahu pasti bagaimana berawal, mungkin mengalir, mungkin juga tertata. Sekumpulan ide yang sejalan bergumul menjadi satu dan jadilah d'Summer Back. Berkumpul, menyatukan ide, memilah lagu, berlatih, berbumbu gurauan khas, kemudian berlanjut aksi panggung. Tumpahan ekspresi tiap-tiap kepala.
10 Maret 2012. Panggung pertama, bukti bahwa d'Summer Back siap!
24 Maret 2012. Dua panggung sekaligus, semakin menjadi bukti d'Summer Back tidak hanya 'asal'. (sstt..sempat sumbang suara di lagu Anyer 10 Maret karena si vokalist ga mau nyanyiin).
31 Maret 2012. Merambah kota tetangga. Aksi amal di salah satu perjalanan.
Mei 2012. Satu kota lain. Semoga bukan menjadi panggung terakhir.

Meskipun sekarang berada di antara 'abu-abu', d'Summer Back tetap menempati satu kepingan yang paling mudah diingat. Piss, Punya Cinta, Anyer 10 Maret, Percuma, Malam Minggu, dan semua lagu yang pernah terbawakan, selalu merubah suasana menjadi rindu. To all people who belong d'Summer Back, saya rindu!

Being Ourselves

Malang, 5 Agustus 2012


Aku tahu benar, aku bukanlah orang yang baik. Tapi satu yang aku juga sangat tahu, menjadi diriku seperti ini adalah satu hal besar yang tak akan aku tukar dengan apapun. Aku tidak peduli bagaimana orang-orang di luar sana memilih dan menjalani hidupnya. Dan hidup memang milik orang yang menjalani. Tidak perlu menilai hidup seseorang, tidak perlu membenarkan hidup kita sendiri, dan tidak harus juga memaksakan suatu kehidupan. Just let it flow, and always thank God for being ourselves. Semua orang pasti ingin bahagia, dengan caranya masing-masing. Proses untuk itu adalah sesuatu tak ternilai ketika bahagia benar-benar telah sampai pada setiap detik kita menjalani waktu.

Just at Glance

Malang, 1 Agustus 2012

Waktu terus-menerus berputar, tanpa pernah meminta ijin kemana akan mengarah. Hari-hari yang terlewati pun tanpa terasa telah menumpuk tinggi berisikan cerita dengan bermacam nada. And I have my own story!  Susah, senang, sedih, dan bahagia. Aku bisa rasakan itu. Merangkai barisan kata, lembar demi lembar, hingga menjadi tumpukan cerita yang tak seorang pun bisa benar-benar memahami. Andai harus tertumpah, mungkin hanya lautlah yang bisa menjadi wadah cerita-cerita ini. I feel so glad with everything I have, and I’m so thankful to be who I am right now. Tak peduli bagaimana angin bergulat dengan debu. Tak peduli bagaimana pantai bersahabat dengan laut. Dan tak peduli bagaimana siang dan malam bermesra menjadi senja. Yang aku tahu, yang aku peduli, aku dan dirimu tetap bersama. Amin.


During This Time..

Malang, 24 Februari 2012

Sekian banyak hari yang terlewati, sekali saja tak ada hari yang tak indah. Satu asa, satu rasa yang menjadi penyangga dua kaki untuk berdiri. Satu kaki milikmu yang begitu membantuku melanjutkan hidup. Menepis segala takut, segala ragu, dan segala bentuk jarum tajam di luar sana. Entah bagaimana lagi aku berterima kasih atas semua yang berarti sangat dalam ini. Dulu, aku bukan siapa-siapa, hanya seperti angin lalu. Hingga satu waktu itu, hadirmu. Aku selalu mengerti, tidak akan mudah menerimaku seperti ini, dengan segala cerita di belakangku yang tak mau lagi aku bingkai. Tetapi, yang mengagumkanku, dirimu bisa. Menerimaku dengan tidak sedikitpun mempermasalahkan apa yang ada dahulu. Aku merasa seperti terlahir sekali lagi, bagai selembar kertas putih, kosong. Kemudian mengisinya dengan cerita-cerita yang kita rajut, berdua. Senang, sedih, duka, dan bahagia. Bersama. Apapun adanya dirimu, bagaimana caramu bersamaku, bagaimana kita melewati segala waktu bersama, it’s so wonderful, darling.

Semoga menjadi do’a yang berakhir sempurna. I love you, i love you, i love you, my irreplaceable.

Welcome on This "Circle"

Welcome!

Akhirnya, tiba juga hari membuat lagi “dunia” untukku menumpahkan segala yang ada di dalam otak, hati, dan perasaan. Mungkin klise, tapi sesungguhnya di sinilah aku akan menuangkan apapun yang ingin kutuangkan tanpa harus memikirkan keterbatasan karakter menulis seperti di jejaring sosial. Meskipun begitu, aku juga seorang anak muda biasa yang memiliki akun-akun jejaring sosial yang sedang populer. Ya, untuk menjalin hubungan dengan teman, kerabat, dan dunia luar.

So you, just enjoy it if you have much time to know another ordinary girl in this world :)


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon